google.com
Seperti yang diketahui angka kasus Covid-19 terus bertambah di Indonesia. Diperparah tidak adanya kepastian kapan pandemi ini akan segera mereda. Jelas, empat bulan semenjak Presiden Joko Widodo pertama kali menginformasikan 2 orang warga Indonesia telah terpapar, kini angka tersebut terus meroket drastis, yaitu mencapai angka 90.000 lebih telah terkonfimasi.
Angka itu terus melambung tinggi. Bahkan saat ini sudah mengalahkan negara China yang diklaim sebagai asal muasal virus corona ditemukan.
Lonjakan yang semakin tidak terkontrol tentu sangat berdampak dan menimbulkan banyak kekhawatiran terhadap tatanan kehidupan masyarakat. Mulai pada persoalan ekonomi tidak jalan, pendidikan yang belum menemukan kejelasan, serta krisis-krisis kemanusiaan yang mulai tergerus. Sebagai misal, solidaritas semakin mengikis—ketidakperdulian antar sesama.
Berulangkali pun pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan demi menghambat laju terpaparnya virus ini; pembatasan ruang sosial, menghindari kerumunan, hingga yang terbaru soal kebijakan tentang tatanan normal baru atau yang biasa disebut new normal. Padahal di lapangan, penerepakan kebijakan ini semakin menimbulkan dilematis antara kepentingan ekonomi dan kesehatan masyarakat. Tentu ekonomi tidak stabil, begitu pun kesehatan makin banyak terancam akan kematian yang disebabkan pandemi Covid-19 ini.
Soal ekonomi? hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh lapisan kelompok terbawah, dalam hal ini seperti UMKM, melainkan juga menggerogoti lapisan masyarakat paling atas. Kelompok-kelompok pengusaha juga sama-sama harus bekerja keras mempertahankan perusahaannya supaya tetap jalan.
Sepaham apa yang ditulis Ryan Sugiarto di halaman Jawa Pos bahwa Gamangnya pemerintah mengonstruksi tatanan normal baru bukan tanpa sebab. Covid-19 telah mengubah tatanan yang ada tanpa teriakan revolusi. Covid-19 menyadarkan bahwa manusia dan sistem pemikirannya sangat rapuh dan rentan. Kapitalisme sebagai buah gagasan telah menghancurkan dirinya sendiri. Konsepsi neoliberalisme luluh lantak oleh Covid-19.
Begitulah kekacauan-kekacauan yang tejadi selama Covid-19. Tetapi, mungkin ada yang luput dari perbincangan khalayak ramai atau bagi orang-orang yang selalu prustasi bahwa ada sebuah entitas namanya “desa” yang selama ini masih kuat atas goncangan pandemi ini.
Ryan Sugiarto juga menyebut bahwa desa-desa di Nusantara adalah komunitas yang paling kuat bantalannya. Saat kota diserbu Covid-19 dan segalanya luluh lantak, orang-orang desalah yang justru menopang logistik warga kota. Mereka pun bisa beradaptasi secara subsisten.
Begitu pun sikap orang-orang desa terhadap Covid-19 seolah telah membuka permasalahan terselubung yang selama ini dihadapi manusia modern. Infrastruktur kesehatan di negara-negara maju ternyata rapuh. Dan tentu sejak dulu orang desa-orang desa mengkawatirkan soal tersebut.
Soal keamanan? Orang-orang desa sigap menjaga keamanan lahir batin. Justru desa-lah penolong bagi para perantau ketika mereka pulang karena tak ada rezeki di kota, ketika pulang adalah jalan satu-satunya, maka desa dengan kelapangannya menerima meski terkadang desa terkucilkan—terbelakang, primitif dan sebagainya.
Kini desa merupakan gelombang baru yang membawa harapan Indonesia. Membuktikan bahwa selama berabad-abad desa telah menujukkan dirinya sebagai penopang bangsa yang sesungguhnya. Sebagai menyelamat di saat tatanan kota mulai tidak menemukan arah. Kebingungan.
Tentu kita masih ingat saat Indonesia dilanda krisis moneter, saat kekacauan terjadi di kota, namun desa dengan begitu sigapnya menopan kekurangan-kekerangan tersebut. Sebagai menyanggah dan benteng terakhir untuk tetap tegar di saat negara sudah mulai rapuh.
Jika para ahli menyebut desa penyelamat, maka tidak salah. Betul adanya. Seperti halnya Tripitono Adi Prabowo yang mengatakan bahwa desa merupakan basis evidential untuk mengidentifikasi berbagai problematika pembangunan. Sebagai misal, jika keadaan desa tercukupi, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maka bisa ditarik kesimpulan kota juga akan mendapatkan dampaknya. Sebaliknya, jika problema desa tak bisa diteratasi, justru itu kota juga tidak bisa berharap lebih.
Adanya padami Covid-19 sebagai bukti, pada situasi kota mulai mencekam, tetapi desa sebagai penyalur kebutuhan yang berada digarda terdepan. Begitu pun saat orang-orang kota kehilangan arah, desa adalah satu-satunya tempat berpulang yang baik.
Apakah desa keberatan? Tidak. Desa selalu lapang hati menerima siapa pun yang seolah kehilangan tempat berteduh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota. Maka juga tidak salah kalau ada yang menyebut desa tempat ternyaman untuk kembali.
Dan jelas sekali, desa adalah penopang masa depan di saat kontruksi tatanan baru telah diterapkan. Dengan gerakan gotong-royongnya membuat membuat persoalan yang tidak pernah ditemukan solusinya di kota bisa diatasi. Maslah ekonomi, desa dengan kesederhanaannya tidak terlalu ambisius. Sehingga tidak adanya keserakahan yang mengakibatkan persoalan-persoalan baru muncul.
Soal politik, desa dengan konsep musyawarahnya telah mengajarkan banyak hal bahwa mengambilan keputusan lebih dahulu memepertimbangkan kemaslahatan orang banyak daripada kepentingan diri sendiri maupun kolega dan keluarga, bahwasannya nilai-nilai kemanusiaan adalah segalanya bagi mereka—orang-orang desa.
Justru dari itu semua, kita mesti harus mengambil pelajaran berharga. Sebaiknya kita tidak usah kembali meremehkan desa. Entitas ini—desa merupakan jawaban atas semua permasalahan yang tidak pernah mampu dipecahkan orang-orang kota.
Desa pun mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana cara berpulang yang baik. Menerima dengan penuh kebesaran hati serta tanpa embel-embel popularitas atau pengakuan-pengakuan lebih. Meski hal tersebut sebagai pelarian semata.

As an experienced entrepreneur with a solid foundation in banking and finance, I am currently leading innovative strategies as President Director at my company. Passionate about driving growth and fostering teamwork, I’m dedicated to shaping the future of business.








Comment